Tiga Dara Pendekar Siauw-lim Part 4 - Tamat
Thio Kim Cai dan kawan-kawannya menjadi marah sekali dan semua orang dengan senjata di tangan memandang ke arah gerombolan pohon di depan itu....(akhir part 3)
“Penjahat kurang ajar yang bermata buta dari manakah berani bermain gila terhadap kami?” Thio Kim Cai berseru sambil mencabut goloknya yang lebar dan berkilauan saking tajamnya.
Baru saja ia mengeluarkan makian ini, tiba-tiba dari balik batang pohon-pohon itu berlompatan tiga orang yang membuat para perwira berdiri melongo dan memandang dengan mata terbelalak. Tiga orang gadis yang cantik jelita dari kahyangan.
Akan tetapi mereka tak diberi kesempatan terlalu lama untuk berdiri melongo dan memandang kagum, karena mereka segera harus berlaku cepat karena tiga dara itu datang-datang tanpa banyak cakap lagi lalu mencabut pedang dan mengamuk. Gerakan pedang di tangan tiga dara itu demikian hebat dan cepatnya sehingga para perwira seakan-akan melihat cahaya kilat menyambar-nyambar di atas kepala mereka dalam hujan badai.
Hwe Lan dan Sui Lan segera dikeroyok oleh tujuh orang perwira, sedangkan Siang Lan memutar pedangnya menyerang Thio Kim Cai yang maju menyambut dan menggerakkan goloknya dengan keras sekali karena ia bermaksud untuk membuat pedang gadis itu terpental dari pegangannya. Oleh karena ini ia sengaja menggerakkan goloknya dengna mengerahkan gwa-kang (tenaga kasar) sehingga goloknya itu mengeluarkan suara angin ketika menggempur pedang di tangan Siang Lan. Akan tetapi gadis itu dengan tenangnya tidak menarik kembali pedangnya, bahkan lalu memapaki sambaran golok lawan.
“Trang!” bunga api berpancaran keluar ketika dua batang senjata ini bertemu dengan hebatnya. Thio Kim Cai menjadi terkejut sekali karena bukan saja pedang gadis itu tidak terpental, bahkan ia merasa telapak tangannya bergetar karena sambutan tenaga lwee-kang yang amat besar. Untung tenaga gwa-kangnya cukup besar dan kuat iapun segera menyalurkan tenaga lwee-kangnya agar goloknya tidak terlempar, akan tetapi pengalaman ini cukup mengagetkan hatinya.
“Eh, siapa kau dan apa maksudmu menyerang kami perwira-perwira istana?” ia membentak.
“Orang she Thio! Jangan banyak cakap lagi, ketahuilah bahwa kami datang untuk membalaskan sakit hati Yap Sian Houw dan kamit ak akan membiarkan orang-orang kejam tak berperikemanusiaan macam kau dan kawan-kawanmu ini, membongkar makam suci seorang pendekar besar seperti Nyo Hun Tiong!”
“Kau... kalian dari... Siauw-lim-pai?” tanya Thio Kim Cai terheran-heran.
Siang Lan tersenyum mengejek. “Memang kami bertiga adalah murid-murid Siauw-lim-pai.” Ia sengaja berkata demikian karena tahu bahwa orang she Thio ini adalah anak murid Go-bi-pai dan ia teringat akan pesan gurunya, Toat-beng Sian-kouw yang melarangnya mengaku sebagai muridnya apabila menghadapi lawan dari cabang lain.
“Bagus!” seru Thio Kim Cai yang segera menyerang dengan goloknya. Serangannya kuat dan cepat, tanda bahwa selain tenaganya besar, ia juga memiliki ilmu golok yang tinggi dan pengalaman bertempur yang luas. Akan tetapi dengan tenang Siang Lan menyambut serangannya dan bahkan membalas dengan serangan-serangan yang cepat sekali. Kini Thio Kim Cai benar-benar merasa kaget dan tercengang. Anak ini benar-benar lihai sekali, pikirnya. Ketika ia mencoba untuk mengerling ke arah kawan-kawannya yang mengeroyok dua dara lain itu, ia makin terkejut sekali karena tujuh orang kawannya itu didesak hebat oleh dua batang pedang di tangan dua orang gadis itu yang menggerakkan pedang mereka dengan cara istimewa sekali!
Celaka, pikir perwira she Thio ini. Benar-benar tiga dara yang muda dan cantik jelita ini merupakan lawan yang amat tangguh. Ia menggigit bibir dan mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya, akan tetapi Siang Lan tetap saja dapat mematahkan semua serangannya dengan ketenangan yang amat mengagumkan. Thio-ciangkun menyerang dengan menggunakan tipu-tipu gerakan yang paling lihai. Dengan teriakan keras, ia menggerakkan goloknya dengan tipu Kim-so-tui-te (Kunci Emas Jatuh di Tanah). Goloknya jatuh ke tanah mengeluarkan bunyi “tring” karena ujungnya mengenai sebutir batu dan dari bawah, golok itu menyerbu dengan tusukan maut ke arah dada Siang Lan. Melihat datangnya serangan hebat ini, Siang Lan lalu menggunakan gerakan dari ilmu pedang Tat Mo Kiam-hwat dari cabang Siauw-lim-pai. Tubuhnya miring ke kiri dan pedangnya digerakkan dari kiri ke kanan menangkis arah golok yang meluncur ke arah dada itu. Akan tetapi mereka tidak berhenti sampai di situ saja, karena dari pertemuan pedang dan golok itu ia sengaja membuat pedangnya terpental untuk diteruskan dengan gerak tipu Duri Menusuk Dari Bawah Bunga. Pedangnya menyerbu di bawah golok dan menuju ke dada lawan dengan amat cepatnya.
Gerakan ini benar-benar di luar dugaan Thio Kim Cai yang menjadi gugup dan terkejut sekali. Ia berseru keras dan sambil menarik goloknya kembali ia mencoba untuk menjatuhkan diri ke belakang agar terlepas dari serangan berbahaya ini. Akan tetapi ia kurang cepat dan ujung pedang Siang Lan masih menyerempet dan melukai lengannya.
Kali ini Thio Kim Cai benar-benar terkejut dan gentar. Belum pernah ia menghadapi seorang murid Siauw-lim-pai yang selihai ini. Bahkan ketika dulu menghadapi Yap Sian Houw, tokoh Siauw-lim-pai yang terkenal itu, ia masih dapat melakukan perlawanan karena ia dapat menduga bagaimana perkembangan gerakan lawan itu. Akan tetapi, terhadap gadis cantik ini ia benar-benar merasa bingung karena gadis ini selain mempunyai kepandaian jauh melampaui dugaannya, juga mempunyai ilmu pedang yang amat cepat dan aneh gerakan-gerakannya.
Pada saat itu, Thio Kim Cai mendengar teriakan-teriakan susul menyusul dari kawan-kawannya dan ketika ia mengerling, dua kawannya telah roboh mandi darah menjadi korban pedang kedua gadis yang mereka keroyok! Hal ini membikin semangat Thio-ciangkun menjadi semakin kecil, maka ia lalu melompat cepat dan tahu-tahu ia telah berada di atas kudanya untuk melarikan diri secepatnya.
“Bangsat she Thio jangan lari!” Siang Lan berseru marah dan ketika melihat lawannya telah melompat ke atas kuda, gadis itu lalu merogoh kantong thi-lian-ci di pinggangnya dan sekali tangan kirinya bergerak, tiga butir thi-lian-ci menyambar ke arah tubuh Thio Kim Cai! Perwira itu terkejut sekali dan menyampok dengan goloknya sehingga tiga buah senjata rahasia yang dilepas oleh Siang Lan itu terlempar ke atas tanah, akan tetapi kembali tiga butir thi-lian-ci yang lain menyambar dengan cepat sekali.
Thio Kim Cai menjadi sibuk sekali dan berpikir bahwa kalau ia berada di atas kuda, tak mungkin dapat melarikan diri dan bahkan berbahaya sekali, maka ia lalu menggulingkan tubuhnya dari atas kuda dan melarikan diri sambil melompat ke belakang pohon.
Dengan cara demikian, perwira she Thio itu dapat menghindarkan diri dari serangan senjata gelap, akan tetapi Siang Lan masih merasa penasaran kalau belum dapat merobohkan perwira yang menjadi biang keladi kematian Yap Sian Houw itu, maka ia lalu mengejar secepatnya.
Sementara itu, setelah merobohkan dua orang perwira lagi sehingga kini yang mengeroyoknya hanya tingga tiga orang, Hwe Lan dan Sui Lan melihat betapa enci mereka mengejar perwira muka hitam itu, merasa khawatir akan keselamatan Siang Lan.
“Sui-moi!” kata Hwe Lan sambil memutar-mutar pedangnya. “Kau susul enci Siang Lan, biar aku sendiri yang bikin mampus tiga anjing kecil ini!”
Sui Lan maklum bahwa encinya ini takkan kalah menghadapi tiga orang perwira yang sudah terdesak hebat itu, maka ia lalu melompat jauh dan mengejar ke arah Siang Lan yang berlari. Ia tadi melihat Siang Lan mengejar ke arah utara, maka secepatnya ia lalu menuju ke utara. Setelah berlari beberapa lamanya, Sui Lan merasa heran mengapa ia tidak melihat bayangan Siang Lan maupun perwira yang dikejar oleh encinya itu. Dengan heran dan gelisah, Sui Lan mencari-cari sampai beberapa lama, berlari ke sana ke mari, kadang-kadang berdiri untuk mendengarkan dengan penuh perhatian. Akan tetapi yang didengarnya di dalam hutan itu hanyalah suara burung-burung berkicau.
Karena merasa penasaran, Sui Lan mencari pohon yang tertinggi di tempat itu, kemudian melompat ke atas cabang yang terendah, dan memanjat terus ke atas. Ia berdiri di atas cabang yang paling atas dan memandang sekelilingnya terutama ke arah utara untuk mencari bayangan Siang Lan. Akhirnya ia dapat melihat bayangan Siang Lan berlari-lari mengejar perwira muka hitam itu, akan tetapi mereka telah jauh sekali. Ia telah terlalu banyak membuang waktu di dalam hutan sedangkan encinya itu telah mengejar naik ke bukit kecil di luar hutan.
Sui Lan hendak turun dari pohon itu. Tiba-tiba ia mendengar suara mendesis keras dan ketika ia menengok, alangkah kagetnya karena yang mendesis itu seekor ular yang amat besar. Ular tadi sudah semenjak tadi melingkar pada cabang pohon, dekat dengan cabang yang diinjaknya, dan ia tidak melihat sama sekali karena selain ular itu sama sekali tidak bergerak, juga warna kulitnya hampir sama dengan kulit pohon.
Ular yang terkejut dan marah itu membuka mulutnya lebar-lebar dan mengeluarkan suara mendesis berikut uap keputih-putihan yang disemburkan ke arah Sui Lan. Gadis ini merasa jijik dan terkejut sekali, maka untuk sesaat ia hanya memandang dengan mata terbelalak. Belum pernah ia melihat ular sebesar ini, akan tetapi ketika ular itu tiba-tiba menggerakkan leber dan mulutnya yang lebar itu menyambar ke arah kaki Sui Lan, gadis itu dengan cepat melompat ke atas cabang yang lebih bawah. Akan tetapi, bukan main kagetnya ketika buru saja kakinya menginjak cabang ini, dari atas ia merasa angin menyambar dan tahu-tahu ular itu telah mengejarnya dan dengan mulut terbuka menyerang ke arah lehernya!
Karena ketika melompat ke atas pohon tadi, Sui Lan menyimpan pedangnya, maka ia tidak dapat menggunakan pedang itu dalam keadaan terdesak dan tidak leluasa maka kembali ia menggerakkan tubuhnya dan melompat ke bawah. Ular itu tetap mengejar dengan kecepatan yang mengerikan. Akhirnya Sui Lan dapat juga melompat sampai ke atas tanah dan cepat gadis ini mencabut pedangnya lalu menanti datangnya binatang buas itu.
“Turunlah, cacing pohon!” teriaknya sambil melambai-lambai dengan tangan kirinya. “Apa kau kira aku takut padamu?”
Ular itu telah melilitkan tubuhnya pada cabang yang paling rendah dan agaknya merasa ragu-ragu untuk menyerang turun. Kepalanya dijulurkan ke bawah dan lidahnya keluar masuk dengan cepatnya di ujung mulutnya.
“Ayo turun kalau ingin mampus!” kembali Sui Lan berseru. Dara ini merasa marah dan gemas karena tadi telah menderita kekagetan dan melihat ular itu hanya memandang dan mempermainkan lidahnya yang panjang dan merah itu, ia lalu merogoh kantung thi-lian-ci dan menyambitkan dua butir biji teratai besi ke arah kepala ular itu, membidik ke arah matanya. Akan tetapi ular itu dapat menggerakkan kepalanya ke samping dan thi-lian-ci itu tidak mengenai sasaran. Namun Sui Lan sebagai ahli senjata rahasia, telah menyiapkan dua butir lagi tangannya dan begitu serangan pertama luput ia telah menyusul lagi dengan serangan kedua!
Kali ini, biarpun kepalanya mengelak, akan tetapi thi-lian-ci kedua yang ditujukan ke arah perutnya, mengenai dengan tepat dan menancap terus ke dalam perut ular itu! Ular itu agaknya merasa kesakitan karena lingkaran pada batang pohon menjadi mengendur. Memang tubuh binatang lebih kuat dari pada manusia dan biarpun biji teratai itu telah memasuki tubuhnya bagian perut, agaknya ular itu tidak tepengaruh geraknya. Ia mendesis-desis lagi menyatakan marahnya dan tiba-tiba kepala lehernya meluncur ke bawah, ke arah kepala Sui Lan. Panjang ular itu tidak kurang dari sepuluh kaki dan dengan melilitkan ekornya pada cabang pohon, kepalanya dapat bergantung ke bawah sampai ke tanah!
Sebetulnya Sui Lan tidak takut sama sekali terhadap binatang itu, hanya merasa ngeri dan jijik. Kini melihat ular itu menyambar turun ke arahnya, ia cepat melangkah ke kiri untuk mengelak dan ketika kepala ular itu menyambar lewat, pedangnya cepat bergerak, disabetkan ke arah leher tepat di belakang kepalanya.
“Crak!” pedang yang digerakkan dengan kuat sekali itu menabas leher ular dan Sui Lan cepat melompat ke kiri. Gerakan ini baik sekali karena ular yang telah dipenggal lehernya itu terlepas lilitan ekornya pada cabang dan tubuhnya yang panjang jatuh ke bawah, dari lehernya yang putus muncrat darah yang berbau amis sekali!
Sui Lan memandang ekor ular yang biarpun sudah tak berkepala lagi, akan tetpai masih dapat menggeliat itu. Hatinya menjadi geli dan jijik, lalu ia bersihkan pedangnya pada batang pohon dan menyimpannya kembali pada sarung pedangnya. Kemudian ia teringat akan maksudnya mencari Siang Lan, maka ia segera melompat dan berlari ke arah utara untuk keluar dari hutan itu dan mengejar ke bukit kecil di mana ia melihat encinya tadi berlari-lari mengejar perwira muka hitam.
Akan tetapi kembali ia kecewa dan bingung karena setelah tiba di tempat itu, ia tidak melihat lagi bayangan Siang Lan maupun Si Muka Hitam! Ia mencari bahkan berteriak-teriak memanggil, akan tetapi hanya gema suaranya sendiri saja yang menjawabnya. Sui Lan mulai merasa gelisah ke manakah encinya pergi? Tak mungkin encinya tidak dapat menyusul perwira muka hitam, karena ia maklum akan kelihaian encinya. Dan kalau sudah tersusul, tentu perwira itu binasa. Akan tetapi mengapa tidak ada jawaban ketika ia memanggil encinya, suaranya itu dapat terdengar sampai jauh, maka tak mungkin Siang Lan tidak dapat mendengar suaranya.
Apakah Siang Lan mendapat bencana? Sui Lan makin bingung dan karena tidak tahu ke mana akan mencari kakaknya ia pikir lebih baik kembali pada Hwe Lan dulu untuk kemudian mencari bersama. Ia lalu berlari kembali ke dalam hutan tadi untuk memberitahukan hasil penyusulannya kepada Hwe Lan.
Ketika ia tiba di tempat pertempuran tadi, yakni di depan kuburan Nyo Hun Tiong, Sui Lan terkejut sekali karena di situ telah sunyi dan tidak nampak bayangan Hwe Lan, bahkan para perwira yang tadi menjadi korban pedangnya dan Hwe Lan, tidak ada lagi di situ. Yang ada adalah bekas-bekas pertempuran, darah berceceran di sana sini, rumput rusak terinjak-injak dan jejak kaki kuda memenuhi tempat itu. Yang hebat adalah keadaan kuburan itu, karena tanah kuburannya telah dibongkar dan ketika ia menjenguk ke dalam kuburan, di situ telah kosong! Agaknya rangka dari tubuh Nyo Hun Tiong telah ada yang mencuri dan membawa pergi.
Sui Lan benar-benar merasa bingung dan gelisah sekali. Apakah yang telah terjadi pada Hwe Lan? Kekhawatirannya memuncak dan membuat wajahnya yang cantik dan biasanya berseri gembira itu menjadi pucat. Kedua matanya mulai basah air mata. Siang Lan pergi tanpa meninggalkan jejak, dan kini Hwe Lan lenyap pula!
“Enci Hwe Lan...!” ia memanggil dengan suara keras. Akan tetapi yang menjawab hanyalah bunyi kresekan daun tertiup angin. Daun-daun itu seakan menceritakan sesuatu, menceritakan apa yang telah terjadi dengan Hwe Lan. Beberapa kali Sui Lan memanggil lagi sekerasnya, akan tetapi, tetap tidak ada yang menjawab. Akhirnya dara ini menjatuhkan diri di atas tanah dan menangis. Ia benar-benar merasa bingung dan sedih. Baru kali ini ia ditinggal seorang diri dan tidak tahu harus berbuat apa, harus pergi ke mana!
Akhirnya ia dapat menetapkan hatinya dan menganggap saat seperti itu tidak tepat kalau diisi dengan kesedihan dan kebingungan. Ia harus berusaha. Gadis ini lalu bangun berdiri, menyusut air matanya kemudian ia mencoba untuk mencari jejak Hwe Lan. Ia hanya melihat banyak jejak kaki kuda di tempat itu dan dengan dada berdebar ia menduga bahwa tentu datang banyak sekali orang berkuda di tempat ini. Mungkin sekali Hwe Lan dikeroyok dan ditawan oleh mereka! Ia merasa menyesal mengapa tadi meninggalkan encinya untuk mencari Siang Lan.
“Enci Siang Lan!” bibirnya bergerak ketika teringat kepada encinya yang sulung ini. Ah, lebih baik ia mencari lagi Siang Lan, siapa tahu kali ini ia akan bertemu. Kalau saja di situ ada seorang di antara kedua kakaknya itu, tentu ia tak sebingung ini.
Sui Lan lalu lari lagi keluar dari hutan untuk mencari Siang Lan di bukit yang berada di sebelah utara hutan ini. Demikianlah, sehari itu ia lewatkan dengan mencari kedua encinya di sekitar tempat itu dengan hati bingung.
Sebetulnya ke manakah perginya Siang Lan? Oleh karena kini tiga dara itu telah terpisah, maka agar lebih jelas mari kita ikuti pengalaman mereka seorang demi seorang.
Sebagaimana telah diketahui, Siang Lan mengejar Thio Kim Cai, anak murid Go-bi-pai yang menjadi kepala perwira pasukan Kim-i-wi itu. Ia melarikan diri secepatnya untuk menghindarkan diri dari bahaya maut, akan tetapi Siang Lan tetap mengejarnya dengan sama cepatnya pula. Ilmu lari cepat perwira itu cukup tinggi, karena ia memiliki ilmu lari cepat dari Go-bi-pai, yakni ilmu lati Liok-tr-hui-teng (Lari Terbang di Atas Bumi). Oleh karena itu untuk beberapa lama ia berhasil menjauhkan diri dari Siang Lan yang tetapi mengejarnya. Biarpun dalam hal ilmu berlari cepat, Siang Lan tak kalah dengan perwira itu, akan tetapi karena Thio Kim Cai lebih kenal keadaan tempat itu, maka untuk beberapa lama Siang Lan belum dapat menyusul lawannya dan hendak mengejar dari belakang, sungguhpun jarak di antara mereka masih tetap tak berubah.
Mereka berkejaran sampai ke bukit sebelah utara hutan itu. Thio-ciangkun merasa bingung sekali melihat betapa gadis yang mengejarnya itu tetap tak mau melepaskannya, sedangkan ia telah lelah. Kalau ia terus mendekati bukit di depan itu, tentu ia akan tersusul. Jalan satu-satunya hanya ke kiri di mana terdapat sebuah rawa yang amat lebar dan luas. Thio Kim Cai bergidik melihat rawa ini. Ia tahu bagaimana cara menyeberangi rawa ini, akan tetapi ia tahu pula bahwa di seberang rawa ini adalah sarang gerombolan penjahat yang amat berbahaya.
Akan tetapi tidak ada jalan lain baginya, maka tiba-tiba ia melompati sebuah jurang di sebelah kiri dan berlari terus menuju rawa yang lebar itu. Siang Lan tetap mengejar dengan hati keheranan. Mengapa musuhnya berlari menuju ke rawa?
Ketika tiba di pinggir rawa, tiba-tiba perwira muka hitam itu melompat ke tengah rawa dan berlari cepat sambil berlompatan. Hal ini sangat mengherankan hati Siang Lan yang masih mengejar di belakan. Apakah benar-benar orang Go-bi-pai itu dapat berjalan di atas air rawa? Ia cepat mengejar ke pinggir yawa dan ketika ia sampai di tepi rawa itu, ia tersenyum. Pantas saja orang yang dikejarnya dapat berlari di atas rawa, karena di situ terdapat bambu-bambu panjang yang mengapung di atas air rawa itu, sambung-sambung merupakan jembatan terapung-apung. Hanya orang yang memiliki gin-kang tinggi saja yang berani melintasi rawa dengan cara berjalan di atas bambu itu, dan orang yang gin-kangnya belum tinggi, tentu takkan berani berlari di atas jembatan aneh ini, karena selain bambu yang terkena air itu licin sekali, juga bambu yang hanya satu itu benar-benar tidak mudah digunakan sebagai jembatan. Sekali saja tergelincir, orangnya akan jatuh ke dalam air rawa yang berbahaya. Bambu yang hanya sebatang itu apabila diinjak, bisa bergoyang dan berputar ke sana ke mari.
Melihat betapa Thio Kim Cai dapat berlompatan dan berlari dia tas bambu itu, dapat diukur bagaimna lihainya murid Go-bi-pai itu. Akan tetapi Siang Lan tidak menjadi gentar menghadapi jembatan darurat itu. Ketika ia masih berada di bawah gemblengan gurunya, Toat-beng Sian-kouw Si Dewi Pencabut Nyawa, ia dan adik-adiknya mendapat latihan gin-kang yang luar biasa dan jauh lebih berbahaya dari pada bambu di atas air ini. Pernah suhunya melatihnya untuk menyeberangi jembatan yang terbuat dari ujung tombak yang runcing. Ia harus berlompat-lompatan di atas ujung tombak itu dan apabila ilmu gin-kangnya belum sempurna, tentu sepatunya akan tertusuk tembus oleh ujung tombak itu!
Siang Lan tak mau membuang waktu lagi dan segera melompat ke atas bambu, terus mengejar sambil berlompatan dan berlari cepat. Ketika tiba di tengah rawa yang airnya bercampur lumpur, ia melihat banyak sekali kepala binatang buas seperti buaya tersembul di kanan kirinya dengan mulut celangap dan gigi-gigi yang runcing dan tajam berkilauan! Ia bergidik juga dengan hati jijik karena kalau saja ia tergelincir dan jatuh ke dalam air rawa, tentu binatang ini akan memperebutkan dagingnya.
Ketika Thio Kim Cai melihat betapa gadis itu tetapi mengejarnya, ia menjadi makin sibuk. Ia maklum bahwa kalau ia melanjutkan perjalanannya, ia akan langsung memasuki daerah sarang penjahat yang dipimpin oleh Ang-hoa Siang-mo (Sepasang Iblis Bunga Merah) yang amat jahat dan terkenal sebagai penjahat iblis yang lihai sekali. Oleh karena itu Thio Kim Cai lalu mengambil keputusan nekat untuk mengadu nyawa dengan gadis Siauw-lim-pai itu.
Melihat Thio Kim Cai berdiri di seberang rawa dengan golok di tangan menanti kedatangannya, Siang Lan tertawa dan melompat keluar dari rawa itu ke depan musuhnya.
“Orang she Thio, akhirnya kau menyerah juga! Kau harus menerima pembalasan atas kejahatanmu dan atas pembunuhan terhadap diri Yap Sian Houw.”
Dengan marah Thio Kim Cai berkata, “Anak perempuan yang bandel, sebetulnya siapakah kau? Ada hubungan apakah kau dengan Yap Sian Houw si pemberontak?”
“Yap Sian Houw adalah orang tuaku!” jawab Siang Lan yang segera maju menyerang dengan pedangnya. Perwira muka hitam itu menangkis dengna goloknya dan mereka lalu bertempur mati-matian di pinggir rawa itu. Kali ini karena sudah kepepet dan tidak ada jalan keluar lagi, Thio Kim Cai mengerahkan seluruh kepandaiannya dan melakukan serangan yang amat berbahaya. Akan tetapi ia benar-benar harus mengakui keunggulan pedang Siang Lan. Terutama yang amat mengagumkan hati perwira itu adalah ketenangan gadis ini. Dengan amat tenang dan tetap ujung pedang gadis itu bergerak menangkis setiap gerakan dan membalas dengan desakan yang membuat perwira itu mulai main mundur. Belum cukup tiga puluh jurus mereka bertempur, Thio Kim Cai sudah mandi keringat, bukan hanya karena lelah, akan tetapi karena merasa cemas sekali. Ia maklum bahwa murid Siauw-lim-pai ini takkan mau mengampuninya, dan iapun insyaf berapa banyak murid Siauw-lim-pai yang telah ia tumpas dan binasakan, baik dengan tangan sendiri maupun dengan bantuan anak buahnya, yakni para pasukan Kim-i-wi. Akan tetapi ia merasa heran mendengar gadis ini adalah anak dari Yap Sian Houw oleh karena sepanjang pengetahuannya dan pendengarannya, Yap Sian Houw belum pernah menikah dan selama hidupnya membujang, bagaimana sekarang tiba-tiba muncul seorang anaknya?
Thio Kim Cai yang berjuluk Kim-to (Golok Emas) ini dan yang selama beberapa tahun telah membuat ia disegani dan juga dibenci anak murid Siauw-lim-pai yang masih hidup, kini benar-benar merasa ketakutan ketika pedang Siang Lan berkali-kali mengancam nyawanya. Biarpun dengan permainan goloknya ia masih dapat mempertahankan diri, akan tetapi ia maklum bahwa lambat tapi pasti, ia akan roboh juga oleh lawannya yang masih amat muda, tetapi memiliki keahlian yang mengerikan hatinya itu. Maka diam-diam perwira muka hitam ini memutar otak mencari jalan keluar.
Ia melihat betapa binatang air yang buas itu kini berenang ke pinggir dan berada di dekat tepi rawa. Hal ini mendatangkan sebuah akal yang hendak dijalankan untuk mengalahkan Siang Lan. Ketika Siang Lan menusuk ke arah dadanya dengan gerak tipu Siang-jin-jit-lou (Dewa Menunjukkan Jalan), Thio Kim Cai mengelak sambil menggulingkan tubuh ke atas tanah, kemudian sambil menggunakan gerakan Yan-cu-hoan-sin (Burung Walet Putar-putar Badan) ia bergulingan dan mainkan Te-tong-to, yakni ilmu golok yang dimainkan dengan cara bergulingan di atas tanah dna menyerang musuhnya dengan golok diputar sedemikian rupa menyerang ke bagian kaki lawan! Ilmu golok ciptaan cabang Go-bi-pai ini benar-benar lihai sekali dan Siang Lan terpaksa menggunakan gin-kangnya untuk melompat tinggi dan menjauhkan dirinya dari serangan ilmu golok yang amat berbahaya itu!
Siang Lan merasa gemas sekali dan membentak, “Bangsat pengecut, kau hendak lari ke mana?” iapun melompat dan mengejar di atas bambu itu. Sesungguhnya, mudahlah bagi Siang Lan untuk menjatuhkan musuh itu dengan thi-lian-ci, akan tetapi gadis ini memiliki sifat yang gagah dan tidak mau melakukan kecurangan dalam pertempuran di mana ia tidak berada di pihak terdesak itu.
Ketika gadis itu mengejar dekat, Thio Kim Cai yang sengaja tidak mau berlari cepat, menanti sampai Siang Lan menginjak bamu yang berada di belakangnya. Ketika Siang Lan sudah melompat di atas bambu yang diinjak oleh perwira muka hitam itu, Thio Kim Cai tiba-tiba berhenti berlari dan dengan hati girang sekali melihat tipu muslihatnya berhasil, ia berjongkok di atas bambunya dan memegang ujung bambu yang diinjak oleh Siang Lan, lalu ia angkat tinggi-tinggi dan menggulingkan bambu itu sehingga Siang Lan yang berada di atas bambu itu, yakni di tengah-tengah, tak dapat menguasai imbangan tubuhnya lagi dan jatuh terguling!
“Ha-ha-ha! Mampus kau, setan perempuan Siauw-lim! Ha-ha!” Thio Kim Cai berdiri di atas bambunya sambil tertawa girang, akan tetapi tiba-tiba ketawanya berhenti dan berganti dengan jerit kesakitan dan mukanya menjadi pucat menyeramkan sekali ketika ia melihat betapa kakinya telah digigit oleh dua ekor buaya rawa! Ternyata saking girangnya, Thio Kim Cai tidak memperhatikan sebelah bawah. Harus diketahui bahwa buaya-buaya rawa itu memang selalu menanti saat baik untuk menggigit orang yang berani menyeberangi rawa itu. Mereka tak berdaya apabila orang yang menyeberang menggunakan ilmu lari cepat karena ia tidak mendapat kesempatan untuk menggigit. Akan tetapi, ketika Thio Kim Cai tertawa terkekeh-kekeh, ia berdiri diam di atas bambu sehingga dengan mudahnya buaya itu menyambarkan mulutnya yang panjang dan lebar itu menggigit kaki Thio Kim Cai dengan gigi mereka yang tajam berbentuk gigi gergaji! Thio Kim Cai berusaha melepaskan kakinya, akan tetapi makin banyak binatang buas itu datang mengeroyoknya sehingga ia tak kuat lagi menahan. Dengan mengeluarkan teriakan menyeramkan sekali, perwira muka hitam itu kini terguling ke dalam air dan segera diseret oleh puluhan buaya. Habislah riwayat perwira she Thio ini, lenyap seluruh daging, tulang dan bahkan seluruh pakaiannya. Hanya warna merah yang menodai air rawa itu, menjadi bukti bahwa ia telah mati dan terkubur di dalam perut binatang-binatang itu.
Sementara itu, ketika tadi terlempar jatuh, Siang Lan mempergunakan ilmu entengkan badan. Ia tidak mau terjatuh dalam keadaan membahayakan keselamatannya, maka dengan menggerakkan tubuhnya, ia dapat mengatur sedemikian rupa sehingga ia jatuh ke bawah dengan kaki dahulu. Ia melihat beberapa ekor buaya dengan kepala yang mengerikan itu tersembul di permukaan air rawa. Dengan tenang dan berani sekali, Siang Lan menurunkan kakinya tepat di atas kepala buaya! Dan sebelum buaya yang lain dapat menyerangnya, ia menggunakan kepalanya itu sebagai batu loncatan dan pada saat Thio Kim Cai diseret ke dasar rawa, ia telah dapat melompat dengan selamat ke atas sebatang bambu.
Betapapun juga, hatinya merasa ngeri melihat keadaan Thio Kim Cai, maka ia menutup matanya dan segera berlari meninggalkan tempat itu, kembali ke pinggir rawa di mana ia tadi bertempur dengan perwira itu. Ia sama sekali tidak tahu bahwa daerah itu dikuasai oleh segerombolan perampok jahat di bawah pimpinan Ang-hoa Siang-mo yang ganas dan lihai! Sebetulnya, Siang Lan ingin lekas kembali ke hutan untuk berkumpul dengan kedua adiknya lagi, akan tetapi karena tadi jalan pulang terhalang oleh peristiwa ngeri yang menimpa diri Thio Kim Cai, maka saking ngerinya, gadis ini melompat ke pinggir rawa. Setelah keadaan air rawa menjadi tenang kembali, ia lalu berjalan ke pinggir dam hendak melompat ke atas bambu untuk menyeberangi kembali lalu mencari adik-adiknya.
Akan tetapi, baru saja ia hendak melangkahkan kakinya menginjak bambu pertama, tiba-tiba sebuah benda hitam menyambar bambu itu dan dengan mengeluarkan suara keras, bambu itu terpukul oleh benda tadi sehingga melintang di atas air! Berbarengan dengan itu, terdengar suara ketawa yang nyaring di belakang gadis itu.
Siang Lan segera berpaling dan ia melihat seorang wanita berusia kurang lebih empat puluh tahun, wajahnya masih nampak cantik, dengan pakaian yang ringkas yang terbuat dari bahan pakaian yang indah dan mewah, berwarna hijau dengan berkembang merah. Wanita itu selain berpakaian aneh, juga pada kepalanya dihias penuh dengan bunga-bunga merah sehingga ia seakan-akan terkurung oleh warna merah yang menyilaukan!
“Hi-hi-hi!” suara tertawanya penuh ejekan dan tarikan mulutnya mendatangkan rasa seram karena membayangkan kekejaman hebat. “Orang yang sudah berani lancang masuk ke sini, tidak boleh pergi begitu saja, harus meninggalkan dulu barangnya yang paling indah dan berharga!”
Siang Lan bertanya kepada diri sendiri, apakah ia menghadapi seorang perampok atau seorang gila.
“Barang apakah yang kau anggap paling indah dan berharga?” ia bertanya dan masih bersikap tenang.
“Ha-ha-ha! Yang paling indah hanya kepalamu! Kau harus tinggalkan kepalamu! Ha-ha-ha!” sambil berkata demikian wanita itu menggerakkan kedua tangannya dan tahu-tahu ia telah mencabut keluar siang-kiam (sepasang pedang) dari punggungnya.
“Hm, kau mencari penyakit!” kata Siang Lan yang juga mencabut pedangnya sambil menanti dengan sikap tenang. “Sebetulnya kau ini siapakah maka bersikap demikian kurang ajar terhadap seseorang yang belum kau kenal?”
Wanita itu nampak tercengang melihat sikap Siang Lan yang tetap tenang seakan-akan tidak merasa takut sama sekali. Kedua matanya berubah sungguh-sungguh dan tajam sinarnya ketika ia memandang lagi dan berkata, “Bukan aku yang kurang ajar, tetapi kau sendiri yang tidak tahu aturan! Kau menginjak daerah kekuasaan orang lain tanpa minta ijin terlebih dahulu!”
Siang Lan merasa makin heran. “Daerah siapakah ini dan aku harus minta ijin kepada siapa?”
“Anak bodoh dan hijau seperti kau mengapa keluar masuk seorang diri sambil membawa pedang? Tidak tahukah bahwa daerah ini berada di bawah kekuasaan Ang-hoa Siang-mo? Sekarang kebetulan sekali kau bertemu dengan aku, Ang-hoa Mo-li (Iblis Perempuan Bunga Merah), kalau kau bertemu dengan anak buahku, jangan harap diberi kesempatan buka mulut! Sekarang melihat bahwa kau seorang anak-anak yang masih bodoh dan hijau maka aku memberi kesempatan hidup kepadamu dengan syarat bahwa kau harus menghadapi sepasang pedangku ini sampai tiga puluh jurus! Kalau dalam tiga puluh jurus kau dapat melawanku tanpa terluka, kau boleh keluar dari tempat ini dengan aman!”
“Kalau aku tidak tahan melawnamu dalam tiga puluh jurus, lalu bagaimana?” tanya Siang Lan.
Ang-hoa Mo-li tertawa terkekeh-kekeh ketika menjawab, “Anak bodoh! Kalau begitu halnya, tentu saja kau menggelinding di atas tanah ini tanpa berkepala lagi! Ha-ha-ha-ha!”
Kini Siang Lan dapat menduga bahwa perempuan ini tentulah seorang penjahat yang kejam dan ganas dan patus saja disebut Ang-hoa Mo-li atau Iblis Perempuan Bunga Merah, karena kekejamannya memang seperti seorang iblis saja yang mempermainkan orang lain sesuka hatinya. Maka ia menjadi mendongkol juga dan berkata dengan tenang,
“Ang-hoa Mo-li, kau orang tua yang tak patut dihormati. Ketahuilah bahwa aku sedikitpun tidak takut kepadamu dan mari kita mencoba-coba kepandaian, hendak kulihat apakah kau kuat menghadapiku sampai tiga puluh jurus!”
Dengan marah sekali Ang-hoa Mo-li mendengar ucapan ini, sudah menjadi kebiasaannya mempermainkan orang lain, dan belum pernah ada orang yang berani mengucapkan tantangan seperti gadis ini yang bahkan membalikkan ucapan tadi dan kini menyindir bahwa ia takkan kuat menghadapi gadis ini dalam tiga puluh jurus!
Ang-hoa Mo-li mengeluarkan seruan nyaring dan tubuhnya lalu menubruk maju sambil memutar sepasang pedangnya. Melihat gerakan iblis perempuan ini cukup gesit, maka Siang Lan berlaku hati-hati, menangkis serangan lawannya dan maju membalas dengan serangan yang tak kalah cepat. Mula-mula Ang-hoa Mo-li menganggap ringan kepada gadis muda itu, dan ia hanya melakukan serangan biasa saja, hendak mengandalkan tenaganya untuk merobohkan Siang Lan dalam beberapa jurus saja, akan tetapi setelah berkali-kali ia menyerang tanpa hasil bahkan pedang lawan itu dengan gerakan yang luar biasa melakukan serangan balasan yang sukar sekali ditangkis, ia mengeluarkan seruan tertahan saking kagum dan merubah gerakannya dengan cepat. Kini ia memainkan ilmu pedang yang cepat dan ganas sekali gerakannya. Kedua pedang di tangan menyambar ke kanan ke kiri dan seakan-akan mengurung tubuh Siang Lan dengan sinar pedang itu.
Akan tetapi kembali Ang-hoa Mo-li terkejut sekali karena tiba-tiba ia lihat sinar pedang alwannya itupun dirubah dan dimainkan dengan lebih cepat lagi daripada gerakannya sendiri! Kedua pedang di tangannya selalu tertumbuk dengan pedang tunggal di tangan gadis itu dan yang membuatnya makin terkejut adalah rasa kesemutan yang terasa oleh telapak tangannya tiap kali pedangnya beradu dengan pedang gadis itu! Makin cepat ia mainkan pedang di kedua tangannya, makin cepat pula gerakan lawannya sehingga akhirnya ia tidak dapat melihat lagi bayangan lawannya, karena sinar pedang di tangan Siang Lan benar-benar dimainkan dengan cepat sekali!
Barulah Ang-hoa Mo-li maklum orang macam apakah sebenarnya gadis muda yang cantik jelita ini dan ia mengeluh. Jangankan merobohkan dalam tiga puluh jurus, bahkan seperti yang dikatakan gadis tadi, belum tentu ia dapat mempertahankan diri sampai tiga puluh jurus! Setelah pertempuran berjalan dua puluh jurus, pedang di tangan Siang Lan perlahan-lahan mulai mendesak dengan hebat dan permainan siang-kiam dari iblis perempuan itu mulai menjadi kacau.
Pada saat itu, terdengar seruan keras, “Niocu, jangan takut aku membantumu!”
Siang Lan memandang dan melihat seorang laki-laki tinggi kurus yang usianya sebaya dengan perempuan itu, memakai pakaian yang aneh dan di kepalanya juga terhias kembang-kembang merah. Ia dapat menduga bahwa ini tentulah suami perempuan ganas itu, karena menurut kata Ang-hoa Mo-li tadi, yang menguasai daerah ini adalah Siang-mo atau sepasang iblis. Memang benar dugaannya, laki-laki yang baru datang ini berjuluk Ang-hoa Sin-mo (Iblis Bunga Merah) atau suami dari Ang-hoa Mo-li. Ang-hoa Sin-mo memegang senjata yang panjang dan berbahaya yakni yang disebut Coa-kut-thi-pian (Pecut Besi Tulang Ular). Pecut ini adalah sebatang rantai besi yang semakin ke ujungnya semakin kecil, sedangkan sambungannya disambung seperti tulang ular sehingga dapat digerakkan seperti ular.
Ketika Ang-hoa Sin-mo menggerakkan thi-pian itu, membantu isterinya, Siang Lan merasa angin pukulannya menyambar dengan ganas dan keras, maka ia cepat mengelak dan berlaku hati-hati sekali. Karena dari serangan ini saja maklumlah bahwa laki-laki ini memiliki kepandaian dan tenaga yang lebih lihat dari isterinya. Ia lalu memainkan ilmu pedang yang khusus diciptakan oleh gurunya, yakni Toat-beng Sian-kouw, yang mendasarkan ilmu pedang ini kepada ilmu pedang dari Siauw-lim-pai, Thai-kek, Kun-lun dan lain-lain ilmu pedang yang pernah dipelajari oleh wanita pertapa yang sakti itu.
Seperti juga Ang-hoa Mo-li tadi, Sin-mo ini terkejut sekali melihat gerakan pedang gadus muda yang cantik ini dan ia berusaha untuk menggunakan thi-piannya untuk menggempur pedang Siang Lan dan mengandalkan tenaganya yang besar untuk merampas pedang itu. Akan tetapi Siang Lan yang cerdik dan bersikap amat tenang itu tidak membiarkan pedangnya bertemu dengan pecut besi yang berat dan kuat, maka dengan menandalkan kegesitannya dan ketenangan gerakannya, ia dapat mengimbangi keroyokan suami isteri iblis bunga merah ini!
Ang-hoa Siang-mo, suami isteri itu ketika melihat betapa lihainya nona ini, menjadi penasaran sekali. Sin-mo lalu memutar thi-piannya dengan cepat sekali dan mengerahkan seluruh kepandaiannya, sedangkan Mo-li tiba-tiba mengeluarkan suara bersuit nyaring sekali. Tak lama kemudian, muncullah belasan orang yang tinggi besar dan bersikap buas. Mereka berteriak dan mengurung Siang Lan yang menjadi terkejut karena maklum bahwa yang datang ini tentu anak buah iblis bunga merah itu! Akan tetapi, Siang Lan dapat menenangkan hatinya dan melawan dengan mati-matian.
Ang-hoa Sin-mo berseru melarang orang-orangnya yang hendak maju mengeroyok, karena ia merasa penasaran sekali. Benarkah ia dan isterinya yang telah terkenal sebagai sepasang suami isteri yang berkepandaian tinggi tak dapat merobohkan anak kecil ini? Ia benar-benar penasaran, dan pada saat dia menahan pedang lawannya dengan cambuk besinya, ia berseru,
“Tahan dulu!”
“Apa kehendakmu?” tanya Siang Lan dengan tenang sehingga Ang-hoa Sin-mo merasa kagum sekali. Belum pernah ia melihat seorang gadis muda yang berkepandaian selihai dan bersikap setenang ini walaupun ia telah dikurung oleh Ang-hoa Siang-mo dan anak buahnya yang menggemparkan dunia liok-lim (dunia perampok).
“Kau yang semuda dan selihai ini sebenarnya anak murid siapakah? Mungkin aku telah kenal gurumu dan melihat muka gurumu aku akan dapat memberi ampun kepadamu.”
Siang Lan tersenyum manis sungguhpun pandangan matanya mengandung ejekan. “Ang-hoa Siang-mo, kalian sombong dan sama kasarnya, dan kalian berdua memang cocok untuk berpasangan. Jangan kau main gertak, aku sedikitpun tidak takut kepadamu atau kepada semua kawan-kawanmu ini. Kalau kau ingin tahu keadaanku, aku adalah anak murid Siauw-lim-pai. Lebih baik kau jangan menggangguku dan membiarkan aku pergi dari sini, karena kalau kau lanjutkan kekurang ajaran kalian, kurasa kau akan menderita dan akan menyesal.”
Biarpun Ang-hoa Siang-mo merasa kagum sekali dan heran melihat masih ada anak murid Siauw-lim-pai yang demikian lihai dan begitu berani keluar ke dunia kang-ouw, akan tetapi sebagai seorang tokoh persilatan besar tentu saja ia tidak sudi mengalah begitu saja.
“Aha, sombong benar kau! Benarkah kau tidak takut kepada kami? Beranikah kau menghadapi Ang-hoa-tin (Barisan Bunga Merah) kami?”
Siang Lan adalah seorang gadis yang tabah dan tenang sungguhpun ia belum pernah mengenal tentang barisan Ang-hoa-tin ini, akan tetapi ia merasa malu untuk mundur.
“Kalau memang kalian ingin mengeroyok aku, mengapa mesti menggunakan alasan pura-pura? Tak usah banyak cakap, mau mengeroyok, keroyoklah, aku sedikutpun tidak takut!”
“Sombong sekali!” seru Ang-hoa Mo-li yang menggerakkan siang-kiamnya lagi, akan tetapi suaminya mencegah dan berkata lagi kepada Siang Lan.
“Kami akan membentuk Ang-hoa-tin dan kalau kau benar-benar dapat keluar dari kepungan kami, tidak saja kau akan dibebaskan, bahkan kami semua akan mengaku kau sebagai guru kami!” kata Ang-hoa Sin-mo yang segera memberi aba-aba kepada kawan-kawannya.
Anak buah Ang-hoa Siang-mo ini berjumlah sebelas orang, sehingga bersama kedua suami isteri yang menjadi pimpinan itu, mereka berjumlah tiga belas orang. Dengan cepat setelah menerima aba-aba ini, mereka bergerak mengurung Siang Lan dengan lingkaran yang lebar. Semua orang mengeluarkan senjata masing-masing yang berupa pedang dan golok dan sebelum bergerak, mereka lebih dulu mengeluarkan bunga-bunga merah dari saku baju dan memakainya di atas kepala.
Siang Lan memasang kuda-kuda dengan tenang dan memperhatikan para pengurungnya dengan penuh kewaspadaan. Mereka itu berjalan perlahan-lahan mengitarinya dengan senjatanya siap di tangan, akan tetapi sama sekali tidak menyerang. Siang Lan berdiri diam saja dengan urat-urat menegang, siap menghadapi gempuran mereka. Akan tetapi mereka sama sekali tidak menyerang, hanya bergerak mengelilinginya dengan langkah makin lama makin cepat.
Melihat orang-orang yang mengepungnya itu sekarang berlari-lari mengelilinginya, pusing juga pandangan mata Siang Lan, maka ia tidak mau memperhatikan mereka. Akan tetapi, gerakan yang sedang berlari berputar itu tiba-tiba berhenti dan gerakan itu berbalik, kalau putaran tadi bergerak dari putaran tadi bergerak dari kiri ke kanan, kini bergerak dari kanan ke kiri!
Siang Lan tiba-tiba merasa kedua matanya kabur dan kepalanya pening melihat gerakan ini, dan ia lalu menyerang dengan pedangnya kepada Ang-hoa Siang-mo yang mengepalai barisan berputar itu. Akan tetapi, baru saja ia menggerakkan pedangnya, dari belakang dan kanan kirinya, tiga buah senjata menyerangnya dengan berbareng dan teratur sekali, yakni yang sebelah kiri menyerang kakinya, yang belakang menyerang pinggangnya dan yang kanan menyerang kepalanya! Terpaksa ia menggagalkan serangannya dan menggerakkan pedang menangkis tiga serangan lawan itu sekaligus.
Setelah bergebrak sejurus ini, barisan Bunga Merah itu tetap berlari-lari dengan teratur, sebentar bergerak dari kiri ke kanan, sebentar kemudian berbalik dari kanan ke kiri dan tiap kali Siang Lan menyerang, ia selalu mendapat serangan seperti tadi!
Siang Lan terkurung dalam barisan yang disebut Ang-hoa-tin (Barisan Bunga Merah) yang benar-benar berbahaya sekali. Barisan itu tidak menyerangnya, hanya mengurungnya sambil berlari-larian dengan teratur sekali sehingga dara yang dikurungnya itu makin lama makin merasa pening kepalanya. Tiap kali ia hendak mencari jalan keluar dari kepungan dengan melakukan serangan untuk membobolkan kepungan itu, selalu serangannya itu didahului oleh serangan dari tiga penjuru yang dilakukan dengan gerakan teratur sehingga terpaksa ia harus menarik kembali serangannya tadi untuk melindungi tubuhnya dari tiga serangan lawan. Keadaan dara ini benar-benar berbahaya karena maksud dari barisan yang berlari-lari itu memang hendak membikin gadis yang terkepung itu menjadi pusing dulu hingga menjadi lemah, baru kemudian hendak diserang sekaligus!
Pada saat yang amat berbahaya bagi keselamatan Siang Lan itu, tiba-tiba dari luar kepungan terdengar suara orang tertawa dan disusul dengan kata-kata ejekan,
“Ha-ha, tak tahunya Ang-hoa Siang-mo yang ditakuti orang itu tak lain hanyalah sepasang suami isteri pengecut yang biasanya hanya mengeroyok orang! Sungguh tak tahu malu, mengeroyok orang! Sungguh tak tahu malu, dengan mengandalkan kawan-kawan sebanyak tiga belas orang! Ha-ha-ha! Orang-orang di dunia kang-ouw bisa berdiri bengong saking herannya melihat kejanggalan ini!”
Biarpun Ang-hoa Siang-mo mendengar sindiran ini, akan tetapi mereka tidak peduli, seakan-akan tidak mendengar ucapan itu, oleh karena dalam barisan Ang-hoa-tin ini, pantangan terbesar ialah kalau anggota barisan itu mencurahkan perhatian ke lain jurusan. Hal ini akan merupakan kelemahan yang mencelakakan karena barisan tak dapat bergerak secara otomatis lagi. Oleh karena itulah, maka mereka menahan sabar dan tetap mengurung Siang Lan yang sudah hampir tak kuat menahan kepeningannya itu.
Akan tetapi, tiba-tiba orang yang baru datang itu berkata lagi,
“Ang-hoa Siang-mo, kalau kalian tidak mau menyambutku, baiklah aku mulai saja dari lluar!” Orang itu lalu mencabut pedangnya dan menyerang Ang-hoa Siang-mo dengan tusukan yang tak boleh dipandang ringan!
Ang-hoa Siang-mo tentu saja tidak membiarkan tubuhnya disate, maka ia lalu menggerakkan thi-piannya menangkis sambil berseru kepada kawan-kawannya, “Tahan dulu!” Ia sendiri melompat keluar dari barisan, diikuti oleh kawan-kawannya yang menahan senjata masing-masing.
Siang Lan merasa lega sekali dan ia melompat tinggi keluar dari kepungan itu dan berdiri di bawah pohon sambil memeramkan mata sejenak untuk membikin tenang hatinya dan menghilangkan kepeningan otaknya. Ia merasa betapa segala apa di sekelilingnya, pohon-pohon dan daun-daun, berputaran tadi. Maka cepat ia meramkan matanya lagi dan mengatur napasnya. Tak lama kemudian ia menjadi sembuh kembali dan dengan marah ia memandang ke arah kedua iblis itu. Akan tetapi mereka itu sedang berhadapan dengan seorang pemuda berpakaian serba putih yang memegang pedang di tanga. Ia teringat akan ucapan yang ia juga dengar tadi dan menduga bahwa pemuda ini tentulah orangnya yang datang mengganggu Ang-hoa-tin, maka biarpun pemuda itu tidak sengaja menolongnya, akan tetapi ia merasa tertolong dan bersyukur sekali. Ia berdiri diam dan mendengarkan percakapan mereka.
Pemuda itu masih muda, paling banyak tentu baru berusia dua puluh tahun, wajahnya tampan dan gagah, mukanya mundar dan sepasang alisnya tebal dan panjang. Pada saat itu, ia tengah memandang kepada Ang-hoa Mo-li dengan mata penuh selidik, sehingga iblis perempuan itu menjadi merah mukanya dan berkata,
“Anak muda, siapakah kau? Melihat matamu, aku rasanya pernah bertemu dengan engkau, akan tetapi entah di mana!”
Suaminya lalu berkata dengan keras, “Niocu, ucapanmu mengingatkan aku pula. Pemuda ini mukanya seperti pernah kukenal. Eh, anak muda, siapakah kau dan apa maksudmu berlaku lancang datang ke tempat ini dan mengganggu urusan kami?”
Pemuda itu tersenyum dan nampak senang sekali mendengar ucapan mereka. “Tentu saja kau pernah melihat orang yang mukanya hampir sama dengan aku. Masih ingatkah kalian pada seorang pendekar bernama Kui Bok Beng?”
Mendengar disebutnya nama itu, tiba-tiba suami isteri Ang-hoa Siang-mo melangkah mundur dua tindak dan Ang-hoa Sin-mo memandang dengan mata terbelalak, sedangkan isterinya tiba-tiba menjadi pucat sekali.
“Anak muda, ada hubungan apakah kau dengan Kui Bok Beng?” tanya Ang-hoa Sin-mo dengan suara parau.
“Dia adalah ayahku! Kau berhutang nyawa kepada ayahku dan sekarang akulah yang datang menagihnya!” jawab pemuda itu.
Wajah Ang-hoa Sin-mo menjadi pucat dan terbayanglah olehnya peristiwa yang terjadi beberapa belas tahun yang lalu. Kui Bok Beng adalah sute (adik seperguruan) dari Ang-hoa Sin-mo yang bernama Lim Pok, menyerbu sarang perampok di Bukit Te-an-san. Ternyata bahwa gerombolan perampok itu dipimpin oleh seorang perampok wanita muda yang bukan lain ialah Ang-hoa Mo-li, seorang gadis anak perampok berusia dua puluh dua tahun dan berwajah cantik! Terpikatlah hati Kui Bok Beng. Ang-hoa Mo-li pun merasa tertarik, akan tetapi juga melihat kegagahannya. Dengan tulus ikhlas, Ang-hoa Mo-li menyatakan takluk dan menyerang terhadap dua orang gagah itu. Terjalinlah rasa cinta kasih antara Ang-hoa Mo-li dan Kui Bok Beng.
Akan tetapi, di luar prasangka kedua orang muda itu diam-diam Lim Pok juga tergila-gila kepada Ang-hoa Mo-li! Ang-ho Mo-li yang semenjak kecil ikut ayahnya menjadi perampok, membujuk agar supaya Kui Bok Beng suka menjadi kepala rampok di gunung itu, akan tetapi tentu saja Kui Bok Beng tidak mau. Sebaliknya Lim Pok menyatakan bahwa ia suka menjadi perampok di situ sehingga antara dua orang saudara seperguruan ini timbul perselisihan pendapat.
Telah setengah bulan mereka berada di puncak bukit itu, Kui Bok Beng berkasih-kasihan dengan Ang-hoa Mo-li, sedangkan Lim Pok diam-diam menaruh hati iri dan benci kepada sutenya, akan tetapi ia tidak berani menyatakan berterang karena merasa malu. Kebetulan sekali pada malam hari ke lima belas, sepasukan tentara negeri menyerbu sarang perampok di bukit itu sehingga terjadilah pertempuran hebat. Dalam keributan inilah terjadi perpecahan antara Lim Pok dan Kui Bok Beng. Menurut Kui Bok Beng, mereka tak seharusnya melawan dan ia hendak mengajak Ang-hoa Mo-li melarikan diri dari jurusan lain, akan tetapi Lim Pok berkeras hendak melawan, bahkan lalu mengepalai anak buah perampok melakukan perlawanan!
Kui Bong Bek merasa penasaran melihat suhengnya menjadi tersesat dan berbalik pikir seperti itu, maka terjadilah percekcokan di antara mereka dalam keributan itu sehingga akhirnya mereka bertempur sendiri! Kepandaian Kui Bok Beng kalah setingkat apabila dibandingkan dengan Lim Pok yang menjadi kakak seperguruannya, maka akhirnya ia tewas dalam tangan suhengnya sendiri! Setelah membunuh sutenya, Lim Pok lalu mengajak Ang-hoa Mo-li melarikan diri dan membiarkan anak buahnya dihancurkan oleh tentara negeri.
Ternyata bahwa Ang-hoa Mo-li memang bukan seorang wanita baik-baik, karena setelah melihat kematian Kui Bok Beng, ia menerima menjadi isteri Lim Pok, bahkan dengan orang she Lim ini ia merasa lebih cocok! Lim Pok amat dipengaruhi oleh isterinya yang cantik, maka setelah mereka mendapatkan tempat yang cocok di seberang rawa itu, mereka menjadi perampok dan mempunyai beberapa anak buah, kemudian atas anjuran isterinya, Lim Pok membuang namanya dan menggantinya dengan Ang-hoa Sin-mo, sehingga mereka berdua menjadi terkenal dengan sebutan Ang-hoa Siang-Mo (Sepasang Iblis Bunga Merah)! Kedua orang itu lalu mencipta ilmu silat Ang-hoa kun dan anak buahnya dilatih pula untuk mainkan ilmu silat ini sehingga mereka dapat membentuk sebuah Ang-hoa-ti yang lihai!
Putera Kui Bok Beng yang pada waktu itu masih kecil, baru berusia enam tahun dan dititipkan oleh Kui Bok Beng kepada seorang bibinya, tahu pula akan kematian ayahnya maka anak ini lalu berlatih ilmu silat tinggi dan bercita-cita membalas dendam. Anak ini adalah Kui Hong An, yaitu pemuda yang telah berhasil mendapatkan tempat tinggal musuh dan yang kini telah berhadapan dengan Ang-hoa Siang-mo itu! Kedatangan Kui Hong An secara kebetulan sekali merupakan pertolongan bagi Siang Lan yang sedang te rdesak hebat dalam barisan Ang-hoa-tin.
Ang-hoa Sin-mo dan Ang-hoa Mo-li yang mendengar bahwa pemuda baju putih yang tampan dan gagah ini adalah putera dari Kui Bok Beng, maklum bahwa pertempuran mati-matian takkan dapat dihindarkan lagi. Akan tetapi mereka sama sekali tidak merasa takut, bahkan Ang-hoa Sin-mo lalu tertawa mengejek dan berkata,
”Anak muda, kalau begitu aku adalah supekmu sendiri. Ayahmu telah tewas karena ia tak tahu diri dan berani melawanku, maka kalau kau suka mendengar nasihatku, lebih baik kau pergi dan lupakanlah urusan yang terjadi antara ayahmu dan kami berdua, karena urusan itu adalah urusan antara kakak dan adik seperguruan! Kalau kau berkeras hendak membalas berarti kau hanya mengantarkan jiwamu untuk mati di tempat ini. Bukankah itu sayang sekali?”
Kui Hong An tersenyum. “Aku telah datang ke tempat ini setelah bertahun-tahun mencari kamu berdua. Setelah sekarang bertemu, apakah artinya kematian bagiku? Ang-hoa Sin-mo, bersiaplah untuk menerima pembalasan ayahku!” Setelah berkata demikian, pemuda baju putih melangkah maju dengan sikap mengancam.
“Nanti dulu!” Ang-hoa Sin Mo berkata, “Ketika kau datang, kami sedang hendak membereskan seorang gadis liar yang ingin mampus, maka kalau kau pun tak tahu diri dan ingin mampus pula, kau majulah bersama dengan gadis itu menghadapi Ang-hoa-tin kami!”
Pemuda itu tertawa mengejek. “Semua ucapan itu hanya menunjukkan betapa curang dan pengecut sifatmu, orang she Lim! Kau merasa ngeri untuk maju seorang diri, maka hendak menggunakan keroyokan dengan mengajukan barisanmu Ang-hoa-tin, dan untuk menutup rasa malu, kausuruh aku dan nona itu maju. Ha-ha-ha! Nona itu boleh jadi takut kepada Ang-hoa-tin, akan tetapi aku Kui Hong Ang, sama sekali tidak takut!”
Mendengar ucapan ini Siang Lan melompat dengan mata memandang marah. “Siapa bilang aku takut?” Sepasang mata nona itu menatap wajah Hong An dengan marah. Pemuda itu memandangnya sambil tersenyum, lalu berkata,
“Kalau Nona benar-benar tidak takut, mari kita hancurkan Ang-hoa-tin ini!”
Siang Lan tidak menjawab, hanya mempersiapkan diri dengan pedang dilintangkan di depan dada. Ang-hoa Sin-mo tidak mau banyak bicara lagi, lalu memberi tanda kepada kawan-kawannya dan mulailah tiga belas orang itu bergerak mengurung dua orang muda itu, dan mulai pula berlari-lari memutari kedua orang yang terkepung. Ang-hoa Sin-mo hanya mencurahkan perhatiannya kepada Siang Lan yang sudah diketahui kelihaiannya, dan ia memandang rendah pemuda itu, karena ayah pemuda itu hanya seorang sutenya yang kepandaiannya masih kalah olehnya, apalagi puteranya.
Namun ketika Hong An melihat barisan itu telah bergerak, ia berseru, “Lim Pok, lihat pedang!” dan ia menyerang ke arah Ang-hoa Sin-mo dengan pedangnya.
“Pergilah!” bentak Ang-hoa Sin-mo sambil menggerakkan Coa-kut-thi-pian (Cambuk Besi Tulang Ular) dengan sekuat tenaga untuk menangkis pedang itu karena ia percaya bahwa dengan sekali tangkis saja pedang itu akan terlempar. Akan tetapi, ia menjadi kaget sekali ketika terdengar suara keras dari pertemuan antara cambuk besi dan pedang itu.
“Trang!” dan ketika Ang-hoa Sin-mo memandang, ternyata ujung cambuknya telah terpotong! Baiknya pada saat itu dari kanan kiri pemuda itu, dua orang anggota Ang-hoa-tin telah menubruk maju sehingga Hong An tak dapat melanjutkan dan terpaksa menangkis serangan dari kanan, sedangkan serangan dari kirinya ditangkis oleh Siang Lan yang tak dapat mendiamkan saja pemuda itu diserang dari kanan kiri.
Hong An memandangnya dan berkata, “Terima kasih!” Akan tetapi Siang Lan dengan mulut cemberut lalu membalikkan tubuh dan menyerang pengurung yang berada di belakangnya! Juga Hong An lalu menggerakkan pedangnya lagi menyerang Ang-hoa Sin-mo yang kini tidak berani memandang rendah lagi!
Bersambung ke part...5
Author: Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Dikumpulkan oleh: Christian Sudibyo ( Thanks ya Bos)
