Tiga Dara Pendekar Siauw-lim Part 3

Dibaca 421 kali | Author : KawungLarang | Kategori: Kho Ping Hoo | 24 Mei 2009

Yang membentak tadi adalah Hwe Lan, akan tetapi sebelum ia bergerak, ia telah didahului encinya. Siang Lan merasa khawatir kalau Hwe Lan akan berlaku sembrono, maka ia mendahului melompat ke tempat pertempuran itu dan menyangka bahwa Sui Lan telah dikalahkan oleh pemuda itu....(akhir part2)

Melihat lompatan yang hebat ini, yang dilakukan dengan gerakan burung walet menembus awan, pemuda itu kembali terkejut. Akan tetapi ketika ia tadi mendengar bentakan yang menyatakan bahwa yang datang ini enci dari gadis yang tadi bertempur dengan dia, maka ia menyangka bahwa Siang Lan hendak menyerangnya. Oleh karena itu, ia mendahului dengan sebuah tamparan untuk menggagalkan serangan gadis itu. Siang Lan merasa penasaran melihat betapa orang ini datang-datang menyerangnya, maka iapun menangkis dengan tangannya yang digerakkan dengan tenaga sepenuhnya. Ketika dua tangan itu beradu, pemuda itu menahan seruannya dan ia terhuyung-huyung mundur, sedangkan Siang Lan hanya melangkah setindak saja ke belakang. Ternyata tenaga lwee-kang dari gadis ini bahkan lebih hebat dari Sui Lan, dan lebih kuat dari pemuda itu.

Celaka, demikian pemuda itu berpikir. Yang seorang ini bahkan lebih lihai lagi daripada yang nakal tadi! Ia baru saja sebulan lebih turun gunung dari pegunungan Kun-lun-san dan kini sedang menuju pulang, tak disangkanya dia di jalan bertemu dengan gadis yang luar biasa lihainya ini! Maka pemuda itu lalu mengambil keputusan untuk “cao” (melarikan diri) saja yang dianggapnya lebih aman dan selamat daripada menghadapi bidadari berbahaya ini! Ia lalu berseru, “Maafkan siauw-te yang lancang!” dan tubuhnya lalu melompat ke belakang dengan cepatnya, berpoksai (membuat salto) beberapa kali lalu turun setelah berada di atas kudanya. Tentu saja ketiga dara muda itu memandang dengan kagum, akan tetapi Hwe Lan yang mengira bahwa adiknya diganggu pemuda itu, masih merasa penasaran melihat pemuda itu hendak melarikan kudanya.

“Tinggalkan dulu daun telingamu!” teriak Hwe Lan yang segera mengerahkan kedua tangannya. “Ser! Ser!” dua buah thi-lian-ci dengan cepatnya menyambar ke kanan kiri kepala pemuda itu, mengarah daun telinga dengan jitu dan cepat sekali.

Pemuda itu terkejut bukan main dan segera menundukkan kepalanya. Dua butir thi-lian-ci itu lewat di dekat telinganya dan angin sambarannya terasa pada daun telinga. Akan tetapi, kembali telah menyusul dua butir thi-lian-ci yang baru lagi dan menyambar kedua daun telinganya, terpaksa pemuda itu membuang diri ke kiri sambil melarikan kudanya dan berhasil mengelak. Namun, dua butir lagi telah menyambar dan mengejar telinganya. Ia cepat membuang diri ke kanan dan mendengar suara thi-lian-ci yang berturut-turut menyambar tiada hentinya itu, ia menjadi ngeri sekali. sambil berseru keras ia mencambuk kudanya yang lari makin cepat dan ketika dari belakang ia mendengar beberapa butir thi-lian-ci menyambar lagi, ia melompat ke atas dan melayang ke depan sehingga enam butir thi-lian-ci yang kini terbang menyambar, lewat di bawah kakinya. Pemuda itu lalu melayang ke bawah dan tepat pula duduk di atas kudanya yang masih berlari. Benar-benar gerakan yang bukan main indahnya sehingga Hwe Lan menjadi bengong karena kagumnya dan lupa untuk mempergunakan thi-lian-ci lagi.

Pemuda itu mengeluarkan keringat dingin dari punggungnya, hebat, pikirnya. Gadis ketiga ini lebih berbahaya lagi! Ah, untung dia bisa cepat melarikan diri, karena kalau ia harus bertanding melawan tiga orang dara manis itu, tentu ia akan dapat celaka! Baru kali ini semenjak turun gunung ia bertemu dengan gadis-gadis secantik dan semuda mereka, juga yang memiliki kepandaian selihai itu! Pernah ia bertemu dengan perampok sampai tiga kali, akan tetapi dengan mudahnya ia menggempur dan mengobrak-abrik perampok itu, bahkan telah berhasil merampas seekor kuda yang baik dari kepala rampok yang sekarang menjadi kuda tunggangannya. Akan tetapi gadis-gadis tadi...! Ia bergidik kalau memikirkannya. Gadis pertama yang cantik seperti bidadari dan jenaka nakal itu mempunyai kepandaian silat yang belum tentu berada di bawah tingkatnya, kemudian gadis yang memiliki tenaga lwee-kang luar biasa itu, dan akhirnya gadis yang dapat menyambit sedemikian mengerikan dengan menggunakan thi-lian-ci! Sungguh-sungguh merupakan lawan yang bukan main tangguhnya.

Betapapun juga, bayangan Sui Lan tak pernah lenyap dari depan matanya. Senyum yang manis itu, sinar mata yang demikian bening, jenaka dan pandangannya yang kocak. Ah, ia maklum bahwa dunia ini tak mungkin ia akan dapat menjumpai seorang gadis sehebat itu.

Sementara itu, Siang Lan dan adik-adiknya setelah melihat pemuda itu melarikan diri cepat, lalu berkumpul di bawah pohon dan beristirahat.

“Sui-moi, siapakah orang tadi dan mengapa kau bertempur dengan dia?” tanya Siang Lan kepada adiknya.

Sui Lan tertawa geli dan dengan tingkah lucu ia menceritakan sebab-sebab perkelahiannya. Tentu saja ia tidak mengaku salah dan menyatakan bahwa ia mengganggu pemuda itu oleh akrena melihat pemuda itu duduk dengan pasang aksi, “Aku menjadi gemas dan mendongkol melihatnya!” katanya kemudian membela diri ketika encinya memandang penuh teguran. “Ia duduk di atas kudanya yang berjalan lenggak-lenggok dan ketika ia lewat di dekatku, sama sekali tidak melihat seakan-akan seorang raja muda melihat seekor cacing! Aku benci manusia sombong, maka aku lalau menyambit pantat kudanya dengan buah busuk!”

Kedua encinya tertawa melihat kenakalan adiknya yang terkasih itu.

“Sui-moi, lain kali janganlah kau mencari perkara seperti itu. Kalau pemuda itu seorang biasa sih tidak akan menjadikan sesuatu yang berbahaya, akan tetapi kalau bertemu dengan seorang seperti dia tadi...! Ah, dia benar-benar memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Entah anak dan murid siapakah dia?” kata Siang Lan.

“Baru saja turun gunung bertemu dengan seorang lawan yang demikian tangguhnya. Apakah di dunia kang-ouw masih banyak orang-orang pandai seperti itu?” berkata Hwe Lan yang diam-diam juga memuji ketika menyaksikan betapa pemuda itu dapat menghindarkan diri dari sambitan thi-lian-ci yang dilepaskannya tadi.

“Ah, menghadapi orang macam itu saja aku tidak takut!” kata Sui Lan sambil tertawa menyombong. “Jangankan satu semacam dia, biar ditambah lima lagi aku tidak gentar!”

“Sombong!” seru Siang Lan.

“Aku tidak sombong, benar-benar aku berani menghadapi orang-orang semacam dia, biar ada lima sekalipun!”

“Adik Sui Lan, kau membohong! Kepandaian orang tadi belum tentu di bawah tingkat kepandaianmu!” kata Hwe Lan sambil memandang tajam.

Sui Lan lalu mengangkat dada dan bertolak pinggang dengan gagah sekali. “Kalian tidak percaya? Boleh, boleh lekar sekarang juga kalian datangkan lima orang seperti dia! Aku Yap Sui Lan takkan mundur selangkahpun!”

Tentu saja kedua encinya tidak mungkin mendatangkan lima orang seperti pemuda itu tadi, maka tahulah kedua encinya mengapa ia berani menyombong macam itu.

“Ah, lagakmu! Kalau orangnya tidak ada, tentu saja mudah menantang. Jangan-jangan kalau orangnya datang, kau akan bersembunyi di belakang punggung Hwe Lan!” kata Siang Lan sambil melerok dan ketiga dara itu tertawa-tawa gembira. Memang Siang Lan dan adik-adiknya yang tidak mengetahui she (nama keturunan) sendiri itu, lalu menggunakan she dari Yap Sian Houw sebagai penghormatan dan pernyataan bakti dan kasih sayang terhadap orang tua yang berbudi itu.

Kemudian mereka melanjutkan perjalanan dan tak lama kemudian mereka bertemu dengan dusun pertama di kaki bukit Liong-cu-san. Meerka berhenti untuk membeli makanan dan bahkan membeli roti kering untuk bekal jalan. Orang-orang di dalam dusun itu memandang dengan kagum kepada tiga orang dara yang selain cantik jelita, juga bersikap gagah dan gembira. Belum pernah dusun mereka didatangi tiga orang dara seperti ini.

Kemudian Siang Lan mengajak kedua adiknya untuk melanjutkan perjalanan dengan cepat. Menurut pesan Yap Sian Houw dulu, apabila sudah tiba waktunya mereka turun gunung, mereka diharuskan menengok makam seorang pendekar bernama Nyo Hun Tiong yang oleh Yap Sian Houw disebut sebagai penolong nyawa mereka bertiga. Tiga orang dara ini sama sekali tidak ingat kepada orang yang bernama Nyo Hun Tiong, juga tidak ingat betapa dulu mereka hampir saja dibunuh orang she Nyo itu. Hal ini yang mengetahui hanya Nyo Hun Tiong sendiri, karena tiga orang anak yang hendak dibunuhnya itu tidak ingat lagi akan hal ini.

Dan oleh karena tempat pertama yang dituju, yakni makam Nyo Hun Tiong ini, masih jauh sekali, maka Siang Lan mengajak adik-adiknya untuk melakukan perjalanan dengan cepat.

Setelah melakukan perjalanan dengan cepat beberapa hari lamanya, sampailah Siang Lan dan adik-adiknya di hutan pohon siong dan liu di mana menurut penuturan Yap Sian Houw terdapat makam Nyo Hun Tiong.

“Makamnya berada di sebuah hutan siong dan liu, di kaki bukit yang bentuknya seperti harimau tidur, di kaki sebelah barat. Di dalam hutan itulah jenazahnya dikubur dan aku memberi tanda sebuah pohon pek di atas makamnya. Kalau kalian bisa sampai di tempat itu, tentu akan kalian lihat bahwa batang pohon pek itu terdapat ukiran pedangku, menuliskan nama Nyo Hun Tiong.” Demikian pesan mendiang Yap Sian Houw dulu.

Ketika ketiga orang gadis itu tiba di luar hutan, hari telah menjadi senja dan udara tertiup awan hitam sehingga menjadi gelap. Mereka agak ragu-ragu memasuki hutan yang gelap itu, karena bagaimana bisa mencari sebatang pohon pek yang ada ukiran tulisannya di dalam hutan yang penuh pohon itu?

Pada saat mereka masih ragu, tiba-tiba mereka mendengar suara kaki kuda menderap keluar dari hutan itu. Siang Lan cepat mengajak adiknya bersembunyi di balik batang pohon dan mengintai karena mereka menyangka ada perampok dalam hutan ini.

Dua orang penunggang kuda keluar dari hutan dan ternyata mereka ini berpakaian sebagai perwira-perwira Kaisar dengan baju yang bersulam benang emas. Siang Lan dan adik-adiknya pernah mendengar penuturan Yap Sian Houw dan diberi gambaran yang jelas tentang keadaan kota raja berikut pakaian-pakaian yang dipakai oleh barisan Kim-i-wi, maka melihat dua orang penunggang kuda itu, maklumlah mereka bahwa kedua orang ini adalah anggota Kim-i-wi.

“Kita harus melaporkan ini kepada Thio-ciangkun!” seorang di antara mereka berkata ketika kuda mereka lewat di dekat gadis-gadis itu bersembunyi.

“Tentu!” jawab orang kedua. “Menemukan pemberontak Nyo Hun Tiong hidup atau mati, bukanlah jasa yang kecil! Kita tentu akan mendapat hadiah.”

Setelah dua orang penunggang kuda itu pergi jauh, Siang Lan berkata kepada adik-adiknya, “Kebetulan sekali, perwira tadi agaknya baru saja menemukan kuburan Nyo-enghiong (Pendekar she Nyo). Biarlah kita bermalam di luar hutan dan besok kita mencari kuburan itu, sekalian melihat apa yang akan dilakukan oleh perwira Kim-i-wi itu.”

“Mengapa tidak kita gempur saja dua orang tikus Kaisar tadi, enci Lan?” kata Hwe Lan dengan muka mendendam dan benci kepada semua perwira Kaisar yang dianggap telah merusak kehidupan mereka, telah membunuh orang-orang yang mereka cintai dan pendekar-pendekar yang telah membela rakyat.

“Mengapa kita bunuh mereka? Kau harus sabar dan ingatlah pesan suthai sebelum kita tutun gunung, Hwe Lan. Kita boleh turun tangan apabila membuktikan kejahatan mereka. Kalau tidak terjadi sesuatu perbuatan jahat, tak selayaknya kita memukul orang, itu namanya sewenang-wenang dan mengandalkan kepandaian untuk menghina orang lain.”

“Akan tetapi mereka itu anggota Kim-i-wi yang jahat, enci Lan!” Sui Lan membela Hwe Lan.

Siang Lan tersenyum. “Belum tentu semua perwira itu jahat, pasti ada kecualinya. Siapa tahu kalau kedua orang tadi justru perwira-perwira berhati mulia? Kalau belum ada bukti kejahatan seseorang, kita tak boleh menyebutnya jahat. Memang, pasukan Kim-i-wi terkenal jahat dan kejam, akan tetapi harus diingat bahwa mereka ini sebagian besar hanya menjalankan perintah belaka.”

Kedua adiknya tak berani membantah dan di dalam hati mereka dapat membenarkan pandangan encinya yang luas ini akan tetapi betapapun juga, Hwe Lan merasa kurang puas. Menurutkan hatinya, ingin ia membasmi semua perwira yang dijumpainya!

Malam hari itu, tiga dara pendekar ini bermalam di luar hutan, di bawah sebatang pohon besar. Mereka membuat api unggun dan bergantian berjaga, karena di tempat terbuka itu mereka harus berlaku hati-hati. Baiknya tak terjadi sesuatu dan pada keesokan harinya, pagi-pagi setelah udara menjadi terang, mereka memasuki hutan itu dan mulai mencari kuburan Nyo Hun Tiong, pendekar Siauw-lim-pai yang menolong mereka.

Tidak sukar bagi mereka untuk mencari pohon pek yang telah menjadi besar itu, karena di tempat ini jarang terdapat pohon pek. Setelah mendapat pohon pek yang dicari-cari, mereka berdiri di depan gundukan tanah yang penuh rumpur dan membaca tulisan yang diukit dengan pedang oleh Yap Sian Houw di batang pohon itu. Tulisan ini berbunyi, “MAKAM NYO HUN TIONG, PATRIOT SEJATI”.

Biarpun tidak ingat lagi bagaimana wajah Nyo Hun Tiong dan bagaimana pendekar itu menolongmereka, akan tetapi setelah berdiri di depan makam itu, Siang Lan, Hwe Lan dan Sui Lan merasa terharu. Inilah pendekar gagah perkasa yang menurut penuturan Yap Sian Houw, telah mengorbankan nyawa karena menolong mereka bertiga, melepaskan mereka dari ancaman perwira-perwira jahat dan kejam yang dipimpin oleh perwira Lee Song Kang! Dan penolong mereka tewas di tangan Lee Song Kang, demikian pula guru mereka Yap Sian Houw tewas oleh anak panah perwira she Lee itu! Pikiran ini membuat rasa sakit hati mereka semakin berkobar dan Hwe Lan lalu menjatuhkan diri berlutut di depan makam itu sambil berkata,

“Nyo-inkong (Tuan Penolong Nyo), teecu bersumpah untuk membawa kepala bangsat she Lee itu ke depan makammu!”

Pada saat itu, terdengarlah derap banyak kaki kuda yang mendatangi tempat itu.

“Mari kita sembunyi!” kata Siang Lan. “Mereka itu mungkin perwira-perwira Kim-i-wi yang hendak memeriksa makam ini.”

Setelah mereka melompat dan bersembunyi di dalam gerombolan pohon, benar saja muncul delapan ekor kuda yang ditunggangi oleh perwira Kim-i-wi yang bertubuh tinggi besar dan bersikap gagah. Yang berada di depan dan paling indah pakaiannya adalah seorang bertubuh tinggi kurus berusia empat puluh tahun lebih. Muka orang ini hitam seperti pantat periuk dan matanya sipit sekali hingga nampaknya seperti dipejamkan. Di pinggangnya tergantung sebatang golok bergagang emas. Perwira ini bukan lain adalah Thio Kim Cai yang berjuluk Kim-to (Golok Emas), seorang murid yang tangguh dari Pek Bi Tojin Ketua Go-bi-pai!

Kemarin siang, dua orang si-wi, yakni anak buahnya, melaporkan bahwa mereka telah melihat makam pemberontak Nyo Hun Tiong di dalam hutan ini, maka ia segera membawa tujuh orang anak buahnya untuk memeriksa kebenaran laporan itu. Nama Nyo Hun Tiong ini kebanyakan bagi perwira amat terkenal, bukan karena pimpinan pemberontak ini amat lihai, akan tetapi ada hubungannya dengan Lee-ciangkun, seorang perwira yang menjadi bu-su di kota raja. Telah lama sekali bu-su itu mencari-cari Nyo Hun Tiong, bahkan menjanjikan hadiah yang amat besar, yakni sepuluh ribu tail perak bagi mereka yang dapat menangkap orang she Nyo itu. Tak seorangpun tahu, kecuali kawan-kawan terdekat dan di antaranya Thio Kim Cai ini, apa alasannya maka perwira she Lee itu demikian beraninya memberi hadiah bagi penangkap Nyo Hun Tiong, hanya kawan-kawan terdekatnya yang tahu bahwa Nyo Hun Tiong telah menculik tiga anak perempuan dari perwira besar itu.

Tentu saja Thio Kim Cai merasa girang sekali ketika menerima laporan tentang diketemukannya kuburan Nyo Hun Tiong, biarpun kegirangan itu dibarengi dengan kekecewaan mendengar bahwa pemberontak itu telah mati. Ia memang pernah mendengar dari Lee-busu, yakni Lee Song Kang yang berpangkat bu-su itu, bahwa Nyo Hun Tiong telah terkena anak panahnya, akan tetapi pemberontak itu masih dapat melarikan diri sambil membawa ketiga orang anaknya.

Setelah tiba di depan makam Nyo Hun Tiong, Thio Kim Cai turun dari kudanya, diturut pula anak buahnya yang berjumlah tujuh orang itu. Thio Kim Cai mendekati pohon pek dan membaca tulisan yang dilakukan dengan ukiran pedang itu.

“Bongkar kuburan ini!” kata Thio Kim Cai kepada anak buahnya.

Anggota Kim-i-wi itu memandang dengan mata terbelalak. “Untuk apa, Thio-ciangkun?” tanya seorang di antara mereka.

“Jangan banyak bertanya. Bongkar saja dan keluarkan isi kuburan itu. Aku, Thio Kim Cai, tidak sudi ditipu oleh segala macam akal bangsat para pemberontak itu. Aku ingin menyaksikan apakah benar-benar Nyo Hun Tiong telah mampus.”

Hwe Lan yang bersembunyi dengan dua saudaranya, menahan seruan marah ketika mendengar nama Thio Kim Cai ini. Hm, jadi inikah anak buah murid Go-bi-pai yang menurut penuturan Yap Sian Houw, telah menjadi seorang perwira kerajaan, bahkan yang telah membuka rahasia Yap Sian Houw sehingga dikeroyok dan mendapat luka parah? Untung Siang Lan cepat memegang tangannya, kalau tidak, ia tentu telah bergerak dan melompat keluar untuk menerjang perwira itu.

Siang Lan menyuruh saudaranya bersabar dulu untuk melihat perkembangan selanjutnya. Ternyata bahwa para anggota Kim-i-wi itu merasa ragu-ragu untuk melakukan perintah itu. Betapapun juga, mereka adalah perwira yang berkedudukan tinggi, bagaimana kini mereka harus menjalankan pekerjaan yang demikian rendahnya, yakni membongkar kuburan orang? Akan tetapi, untuk menolak, mereka tidak berani dan terpaksa mereka lalu maju mendekati kuburan itu untuk mulai melakukan pekerjaan yang amat berat itu. Karena mereka tidak mempunyai alat-alat penggali, maka mereka mencabut senjata tajam seperti golok dan lain-lain untuk menggali kuburan itu.

Kini Siang Lan tidak sabar lagi. Ia memberi tanda dan tiga dara itu bergerak, disusul dengan berkelebatnya beberapa butir thi-lian-ci ke arah tujuh orang perwira yang sedang menggali kuburan itu.

“Awas!” teriak Thio Kim Cai yang melihat sinar am-gi (senjata rahasia) ini untuk memberi peringatan kepada kawan-kawannya.

Tujuh orang anggota Kim-i-wi itu bukanlah orang-orang sembarangan dan mereka rata-rata mempunyai ilmu kepandaian yang cukup baik, maka biarpun andaikata Thio Kim Cai tidak memberi peringatan, mereka dapat juga melihat datangnya sinar senjata rahasia yang menyambar ke arah mereka. Dengan seruan kaget mereka lalu melompat ke sana ke mari untuk menghindarkan diri dari sambaran peluru kecil itu. Akan tetapi, sambitan thi-lian-ci yang dilepas dari gerombolan pohon itu benar-benar cepat sekali sehingga dua orang di antara mereka kena tersambar kulitnya dan mereka mengaduh-aduh.

Thio Kim Cai dan kawan-kawannya menjadi marah sekali dan semua orang dengan senjata di tangan memandang ke arah gerombolan pohon di depan itu.

Bersambung ke part...4

Author: Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Tentang Penulis Artikel

Perjalanan yang hampir tak berujung walau panjang telah dilalui. More »